Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!”
~Lukas 18: 39
Apakah setiap berdoa, kita meyakini bahwa Tuhan mendengar dan dengan PASTI menjawab doa kita? Atau, jangan-jangan kita bahkan tak pernah memikirkan hal ini, dengan demikian mendorong kita untuk tekun berdoa serta menanti-nantikan apa yang kita doakan. Doa sekedar rutinitas atau bahkan aktivitas yang menutup rasa bersalah jika tidak melakukannya.
Saya sendiri menyadari, ada saatnya saya berdoa karena rasa bersalah dan hanya mengerjakan kewajiban. Bukan karena rindu dan butuh berdoa. Bahkan, saya pernah dengan sengaja tidak berdoa untuk melihat apakah pada akhirnya saya ingin berdoa karena merasa bersalah atau RINDU. Saya menyadari, seringkali rasa bersalah menjadi dorongan lebih besar dari kerinduan saya untuk bertemu dan berseru kepada Bapak. Tapi, di sisi lain saya jadi tahu apa itu rindu. Saat terpuaskan bertemu, ada sukacita dan rindu yang ingin makin terpuaskan dalam perjumpaan terus menerus dengan Bapa. Tekun berdoa.
Di pihak lain, menantikan jawaban doa juga bukan persoalan sekedarnya. Menanti berbanding lurus dengan ketekunan dalam berdoa. Di dalam terus menerus berdoa ada sikap hati menanti-nanti sampai Allah bertindak dan menjawab. Apapun jawabanNya. Tidak sedikit orang percaya gagal dalam hal ini. Akibatnya, mereka kecewa dan berhenti berdoa. Padahal waktu Tuhan mungkin hanya butuh waktu sedikit lebih lama.
Ketoklah, maka pintu akan dibukakan… — Matius 7: 7-11
Salah satu teman dokter yang melayani daerah pedalaman pernah bercerita jika dia punya akses 24 jam meminta pertolongan seorang tetangga untuk meminjam mobil dan mengantar ke Rumah sakit di kota jika ada pasien gawat darurat. Itu satu-satunya pilihan. Benar, ia menikmati akses tersebut saat suatu ketika ada pasien gawat yang harus di antar ke Rumah Sakit jam 2 pagi. Ia hanya perlu berlari ke rumah tetangga dan MENGETOK pintu sampai pintu itu dibukakan. Seberapa lama? Entah, yang pasti ia tahu pintu akan dibukakan dan seorang pasien terselamatkan.
Pengalaman itu menjadi cerita hidup dari Matius 7: 7-8. Tuhan mengajar kepada orang percaya untuk tidak hanya datang berdoa tapi juga tekun berdoa dan tekun menanti. Ini berarti terus menerus dan tidak berhenti berdoa sampai Tuhan menjawab dan bertindak. Doa seperti mengetok pintu. Datang dalam kesadaran kepada Tuhan satu-satunya Pribadi yang dapat menolong dan terus mengetok sampai Tuhan memperhatikan dan membukakan pintu. Saat seseorang tekun berdoa, saat itu pula ia sedang tekun menanti Tuhan menjawab doa dan bertindak.
Datang dan berseru… — Lukas 18: 35-43
Seorang pengemis yang miskin meminta-minta belaskasihan di pinggir jalan. Satu-satunya pekerjaan yang bisa dilakukan dalam kebutaannya. Pengemis yang buta dan miskin, siapa yang memperhatikan, mengindahkan, memperdulikan? Banyak orang tak peduli.
Wajar jika seruannya diabaikan dan dianggap bodoh oleh orang-orang saat ia mendengar Yesus dari Nasaret lewat dan berteriak. “Hush, diamlah..” kata orang-orang. Apakah ia diam dan berhenti berseru? TIDAK. Dia semakin keras berteriak, “Yesus Anak Daud, Kasihanilah aku.”
Kadangkala, bagi orang lain, apa yang kita minta nampak sebagai kebodohan. Atau, terus menerus meminta adalah sia-sia, “Kenapa tidak percaya, toh Tuhan Maha tahu, jadi sekali berdoa sudah cukup.” Mungkin terlihat benar, tapi apakah sungguh-sungguh benar?
Seruan keras yang mengatasi keriuhan orang, menghe ntikan langkah Yesus terlebih seruan itu menyebutNya, “Anak Daud”. Banyak orang menyebut Yesus “Orang Nasaret” tapi pengemis buta ini menyebutNya “Anak Daud”. Yesus yang dia kenal dan percayai bukan sekedar manusia yang berasal dari Nasaret tapi MESIAS yang dijanjikan yang akan membebaskan. Yesus tidak hanya mendengar tapi menanggapinya, “Bawa kemari…” Perjumpaan yang membebaskan.
Bayangkan jika ia tidak berseru dan tekun berseru, maka ia tak punya kesempatan untuk berjumpa dengan Kristus dan mendengarNya berkata, “Apa yang engkau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”. Pengemis itu tahu betul siapa dirinya yang tidak berharga dan berdaya. Dalam ketidakberdayaanya, ia datang dan berseru-seru dalam kemiskinannya meminta belaskasihan. Ia juga tahu betul siapa Yesus, ia datang dan berseru meminta belas kasihan kepada Pribadi yang dikenalnya. Mesias.
Tidak semua orang percaya datang berdoa dalam kesadaran butuh Kristus dan belaskasihanNya. Seringkali orang percaya datang dengan membawa keangkuhan dan keinginan bahkan cara-cara yang dia harap Tuhan “setujui”. “Allah nampaknya butuh sedikit pertolongan kita”, tak sadar sebenarnya ini bisa jadi pikiran kita saat kita datang berdoa.
Tidak semua orang percaya juga datang dalam kesadaran siapa Allah yang kepadaNya, ia berdoa. Sesungguhnya, iman bergantung pada pengenalan dan pengalaman akan siapa Allah. Ada kalanya orang percaya gagal untuk tekun berdoa dan tekun menanti karena tidak menyadari kepada siapa dia telah datang dan meminta.
Kesadaran akan siapa kita yang miskin dan tidak berdaya, juga kesadaran akan siapa Allah yang kepadaNya kita datang, menolong kita untuk berani berdoa dengan tekun dan tekun menanti jawaban di dalam iman dan pengharapan yang benar.
Tuhan, supaya aku dapat melihat…
Pengemis yang buta mendapat belaskasihan. Tuhan menjumpainya dan bertanya. Lihat, Tuhan bertanya. Benar, Tuhan maha tahu tapi Dia bertanya. Tuhan juga tahu pengemis itu miskin dan buta tapi Dia tetap bertanya. Pengemis buta tahu apa kebutuhannya dan yang terbesar menjadi kehendaknya, MELIHAT. Dengan yakin dan berani, dia menjawab, “Tuhan, supaya aku dapat melihat…”
Tuhan bertindak berdasar kehendakNya tapi juga belaskasihanNya. Di dalam kemahatahuanNya, Tuhan menghendaki untuk melakukan apa yang menjadi kehendak kita oleh belaskasihanNya. Melihat iman pengemis buta, Tuhan bertindak. Pengemis pada akhirnya tidak hanya melihat secara jasmani tapi juga dari kebutaan rohaninya, “Diselamatkan” oleh karena imannya kepada Kristus sang Anak Daud, Mesias.
Bagaimana dengan kita sebagai orang percaya, apakah kita cukup berani datang dan berseru kepada Allah sebagaimana yang kita kenal? Apakah kita cukup berani beriman dengan tekun berdoa meminta belaskasihan atas kondisi dan kebutuhan hidup kita bahkan masa depan kita?
Sebagai pelayanan, apakah PSMKS berani berseru dan beriman untuk kebutuhan pelayanan dan pertumbuhan hidup siswa mahasiswa dan alumni yang dilayaninya? Tekun berdoa sampai visi pelayanan PSMKS tercapai. Membangun siswa mahasiswa menjadi murid yang mengerjakan Amanat Agung di berbagai tempat dan bidang pelayanan.
Tekun berdoa dan menanti sampai Tuhan menjawab/bertindak dengan sikap yang benar bukan perkara mudah. Kita musti sadari, memulai sesuatu lebih mudah daripada terus menerus melakukannya. Demikian pula dalam berdoa. Awal tahun bisa saja jadi waktu untuk memulai komitmen berdoa. Tapi, keyakinan, disiplin dan pengalaman menjadi kunci untuk terus berdoa sampai Tuhan bertindak.
Pelayanan butuh siswa mahasiswa dan alumni yang tekun berdoa. Bukan karena aktivitas rutin tapi karena kesadaran bahwa pelayanan ini sungguh membutuhkan Allah dan pertolonganNya. Kita perlu belajar untuk tidak berhenti berdoa sekalipun seakan tidak ada sesuatu yang terjadi karena kita mempercayai siapa Allah yang kita kenal. Iman kepada Allah yang mengasihi dan mengutus untuk kita pergi melayani siswa mahasiswa dan alumni menjadi murid Kristus.
sumber gambar: https://www.freepik.com/free-photo/spirituality-religion-hands-folded-prayer-holy-bible-church-concept-faith_5216371.htm

