Syalom, Saudara yang dikasihi Tuhan.
Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang terasa “sulit”?
Mungkin itu rekan kerja yang menjengkelkan, sahabat yang posesif, anggota keluarga yang melukai hati, atau bahkan pasangan yang membuat dada sesak.
Bagaimana kita—sebagai pengikut Kristus—merespons orang seperti ini?
Firman Tuhan menolong kita melalui tiga kunci utama: Identitas, Perspektif, dan Sikap Hati.
1. Identitas: Dasar Penerimaan dan Pengampunan
9Dan berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: “Hari ini telah Kuhapuskan cela Mesir itu dari padamu.” Itulah sebabnya nama tempat itu disebut Gilgal sampai sekarang. 10Sementara berkemah di Gilgal, orang Israel itu merayakan Paskah pada hari yang keempat belas bulan itu, pada waktu petang, di dataran Yerikho. 11Lalu pada hari sesudah Paskah mereka makan hasil negeri itu, yakni roti yang tidak beragi dan bertih gandum, pada hari itu juga. 12Lalu berhentilah manna itu, pada keesokan harinya setelah mereka makan hasil negeri itu. Jadi orang Israel tidak beroleh manna lagi, tetapi dalam tahun itu mereka makan yang dihasilkan tanah Kanaan.
~Yosua 5:9-12
Bangsa Israel baru menikmati Tanah Perjanjian setelah 40 tahun di padang gurun. Saat manna berhenti, Allah meneguhkan identitas mereka sebagai umat pilihan yang akan hidup dari hasil tanah itu.
1Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! 2Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! 3Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; 4sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Sela 5Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela 6Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui; sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi, itu tidak melandanya. 7Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku, Engkau mengelilingi aku, sehingga aku luput dan bersorak. Sela 8Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. 9Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau. 10Banyak kesakitan diderita orang fasik, tetapi orang percaya kepada TUHAN dikelilingi-Nya dengan kasih setia. 11Bersukacitalah dalam TUHAN dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!
~Mazmur 32
Mazmur 32 mengingatkan bahwa identitas kita sebagai orang berdosa yang sudah diampuni Kristus adalah sumber kebahagiaan sejati.
Ketika kita sadar bahwa dosa kita yang besar telah diampuni, kita dimampukan untuk mengampuni orang lain yang “hanya” bersalah sebagian kecil kepada kita.
Kesadaran ini menjadi pondasi untuk menerima dan mengampuni tanpa pamrih.
2. Perspektif: Melihat dengan Mata Kristus
16Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. 17Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 18Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. 19Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. 20Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. 21Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
~2 Kor. 5:16-21
Paulus menulis bahwa kita dipanggil untuk menilai orang bukan dengan cara dunia, melainkan dengan perspektif ilahi.
Dunia mudah menghakimi, tetapi Allah memanggil kita untuk menerima pribadi orangnya, meski menolak perbuatannya.
1Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 2Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” 3Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
11Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 12Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 13Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 14Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. 15Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. 16Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. 17Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 18Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 19aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 20Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 21Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 22Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 23Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 24Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. 25Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. 26Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 27Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. 28Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 29Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. 30Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 31Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 32Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”
~Lukas 15:1-3,11b-32
Seperti Bapa dalam perumpamaan Anak yang Hilang, Tuhan menunggu dengan sabar, memberi ruang bagi pertobatan, dan tetap membuka pintu rumah-Nya.
Menerima bukan berarti setuju dengan kesalahan—ini berarti memberi kesempatan bagi kasih Kristus bekerja.
3. Sikap Hati: Merayakan Pemulihan
Pengampunan sejati menampilkan dua sikap hati:
- Bersukacita atas pertobatan.
Sang bapa berlari menyambut anak bungsu dengan pelukan dan pesta. - Tidak mengungkit masa lalu.
Fokusnya bukan lagi pada kesalahan, tetapi pada pemulihan yang dikerjakan Tuhan.
Pengampunan bukan berarti melupakan luka, melainkan menyelesaikan luka dengan pemulihan dari Kristus.
Hidup Dalam Kristus: Sumber Kekuatan
Yesus berkata, “Tinggallah di dalam Aku… sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15:4–5).
Dalam istilah Jawa, ini seperti manunggaling kawula Gusti—bersatu dengan Tuhan.
Hanya dengan tinggal dalam Kristus, kita dimampukan untuk mengampuni dan menerima orang lain.
Langkah Praktis
Mari kita tanyakan pada diri sendiri:
- Siapa yang saat ini sulit kita terima atau ampuni?
- Langkah apa yang bisa kita ambil hari ini?
Mungkin kita mulai dengan doa, memohon pemulihan hati, mendoakan orang tersebut, atau menunjukkan apresiasi ketika mereka mengambil langkah pertobatan.
Kasih dan pengampunan Allah selalu lebih besar daripada luka kita.
Tinggallah dalam Kristus dan izinkan Dia bekerja melalui kita untuk menerima, mengampuni, dan merangkul orang-orang yang “sulit” dalam hidup kita.
Soli Deo Gloria.

