Jika saya ditanya, siapa yang paling berjasa dalam kehidupan saya selama ini? Saya akan menjawab pelayanan Perkantas Solo dan orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah pribadi-pribadi yang paling berjasa dalam hidup saya. Nama saya, Winarsih. Alumni Perkantas dari Pelayanan siswa Karanganyar angkatan 2000.
Saya masih ingat bagaimana mbak Dewi Wahyuningsih mengusahakan sungguh-sungguh untuk bisa menemui saya secara pribadi supaya saya bisa belajar Firman Tuhan dengannya. Saya merasa saya awalnya dimuridkan (dengan paksa). Saya mengatakan “dengan paksa” karena saya sebenarnya tidak mengusahakan sungguh sungguh untuk bisa PA dengan mbak Dewi. Bersyukur untuk kesediaan mbak Dewi yang peka dan taat pada pimpinan Tuhan untuk merengkuh diri saya dari lubang penderitaan hidup yang lebih dalam. Tentu saja, Kristuslah yang mengerjakan pemulihan dalam diri saya melalui karya penyelamatan dan Firman yang saya pelajari selama saya dimuridkan. Namun bagi saya, keteguhan dan kasih mbak Dewi adalah media Allah mengerjakan karya selanjutnya dalam diri saya sampai saat ini.
Saya bersyukur untuk mas Yohanes, mas Hastarjo, mas Kiky, mas Nova, mas Hanung, mas Wahyu, mbak Bekti, mbak Ninik yang menjadi kakak-kakak yang memberi teladan dalam proses pemuridan dalam diri saya. Mereka adalah orang-orang penting yang mendorong saya terus setia dimuridkan sekalipun mbak Dewi harus meninggalkan proses pemuridan dalam diri saya karena sakit waktu itu.
Saya bersyukur untuk ketekunan mbak Tia Rianingsih yang akhirnya menjadi kakak rohani saya yang ke dua dan yang terlama. Tahap murid dasar, tahap murid melayani dan pembuat murid saya dibangun oleh pribadi tangguh ini. Saya sangat banyak belajar dari setiap PA dengan mbak Tia. Di tengah badai topan yang menghantam diri saya dan keluarga saya, saya juga merasakan begitu besarnya dukungan Perkantas Solo. Tidak saja doa, waktu, tenaga bahkan dana teman-teman berikan kepada saya. Jika saya tidak ada dalam komunitas ini, saya tidak yakin saya masih bisa bertahan hadapi tekanan hidup yang diizinkan saya alami.
Bersyukur, akhirnya saya juga bisa membantu pelayanan Lansia yang dikerjakan dokter Indah dan tim di Solo untuk beberapa waktu setelah mama saya meninggal dunia pada tahun 2011. Di komunitas ini, saya mengenal Ci Meyland, Wina, Dian, mas Daniel dan kak Panji. Mereka adalah komunitas yang menghantar saya untuk memutuskan bergabung PA dengan mbak Monna. Komunitas sesama pekerja swasta membuat saya didukung menghadapi tekanan kerja yang juga saya alami waktu itu.
Sampai pada titik yang tepat di mana Allah sungguh-sungguh tidak ingin saya terus di bidang yang saya geluti, Allah dalam kasih-Nya meminta saya dengan paksa untuk meninggalkan pekerjaan saya dan mendoakan untuk melayani-Nya. Melalui tahap 8 bulan di SABDA, Allah membukakan jalan untuk mengenali panggilan saya lebih jelas.
Merupakan kasih karunia yang besar jika saya diberi kesempatan dan kepercayaan-Nya melalui hamba-Nya, mas Gunawan untuk saya studi di SAAT Jurusan MTh. Konseling. Kepercayaan yang begitu luar biasa untuk diajar dan dibentuk di seminari ini. Di tempat ini, saya menemukan jawaban yang saya tunggu-tunggu sejak 2008 melalui janji-Nya dalam Yoel 2:25-26.
“Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentara-Ku yang besar yang Kukirim ke antara kamu. Maka kamu akan makan banyak-banyak dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang telah memperlakukan kamu dengan ajaib; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya.”
~Yoel 2:25-26
Saya harus jujur bahwa pemuridan yang dikerjakan pelayanan Perkantas belum menyentuh secara maksimal semua luka-luka batin yang saya alami dari pengasuhan orang tua saya selama saya hidup. Allah menggarap bagian ini di SAAT. Adalah anugerah tak terkira saat saya dizinkan dioperasi emosi saya melalui dosen-dosen konseling selama studi di Seminari ini. Saya tidak saja disiapkan untuk menolong orang-orang lepas dari persoalan emosi mereka tapi saya sendiri diproses untuk mengalami pemulihan dari luka-luka saya. Di SAAT saya tidak saja dikonseling, saya juga didampingi mentor secara privat selama studi. Saya benar-benar dipantau untuk hidup dalam pertumbuhan yang sehat secara rohani, fisik dan emosi.
Ketika melihat begitu porak-porandanya diri saya di setiap sesi konseling dan mentoring dengan dosen dosen, saya semakin melihat kasih Allah yang begitu besar terhadap diri saya. Saya juga melihat bahwa kasih-Nya itu melebihi kasih orang tua saya kepada diri saya bahkan kasih saya sendiri kepada diri saya sendiri. Saya menemukan bahwa diri saya adalah monster yang sangat kejam bagi diri saya sendiri (dan sebenarnya juga bagi orang lain). Penerimaan Allah yang begitu besar itulah yang membuat saya terus belajar menerima diri dan proses yang saya jalani sekarang ini. Penerimaan Allah ini juga yang membuat saya semakin merasakan saya tidak bisa hidup tanpa Dia di samping saya. Penerimaan yang membuat saya semakin mengasihi-Nya. Penerimaan yang membuat saya semakin bisa menerima orang lain beserta proses mereka masing-masing yang begitu rumit alias kompleks.
Studi di MTh Konseling SAAT membuat saya semakin mengerti menolong seseorang adalah hal yang kompleks. Bukan saja melibatkan masalah rohani tapi juga masalah emosi. Saya semakin mengerti bahwa persoalan emosi dari seseorang menjadi penghalang besar dari seseorang bertumbuh di dalam kedewasaan rohani. Dalam 3 tahun ini ketika saya bertemu dengan remaja dan pemuda yang saya sudah bisa kenali persoalan emosi mereka (tanpa sepengetahuan mereka), hati saya selalu dikobarkan dengan rasa belas kasih yang begitu besar. Beberapa kali saya harus meneteskan air mata di depan mereka supaya mereka bersedia memproses persoalan mereka lebih lanjut dengan konselor. Bukan karena saya adalah calon konselor tapi karena saya tahu dan telah merasakan betapa sakit dan mengerikannya hidup dalam cengkeraman persoalan emosi. Betapa saya dan semua orang membutuhkan Kristus untuk menjadi obat dari luka-luka emosi. Saya sebagai calon konselor tetap menyadari bahwa Kristus adalah satu-satunya obat dari setiap luka-luka emosi dari setiap orang. Kesadaran itu justru membuat saya semakin meyakini bahwa setiap orang membutuhkan konseling untuk mengalami bagaimana Kristus menjadi obat bagi jiwa. Kristus memakai konselor yang telah diproses dan belajar untuk melihat area persoalan emosi kita lebih cepat dan menolong kita untuk memproses area luka itu bersama Kristus. Saya secara pribadi semakin terbeban untuk bisa menemani perjalanan hidup orang-orang yang telah dimuridkan supaya kedewasaan rohani itu lebih mudah untuk dicapai lewat konseling.
Di akhir tulisan ini, sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga Perkantas Solo yang menemukan, menemani, memuridkan, dan melengkapi saya untuk melakukan panggilan saya dalam tubuh Kristus.
Soli Deo Gloria!
sumber gambar: https://www.freepik.com/free-photo/group-people-cheering-arms-raised-joy-generated-by-ai_42663909.htm

