(Catatan singkat mengenang Herutomo)
Hari ini saya mendengar kabar itu. Herutomo telah pergi. Ada jeda sejenak yang sulit dijelaskan. Bukan karena kami sangat dekat—justru sebaliknya. Saya tidak pernah benar-benar mengenalnya secara mendalam. Kami tidak sering berbincang panjang, tidak pula berbagi banyak cerita.
Namun entah mengapa, kabar ini tetap terasa mengetuk ruang yang sunyi di dalam diri saya. Mungkin karena beberapa orang, tanpa perlu banyak kata, sudah meninggalkan jejak.
Saya mengenalnya ketika saya datang di PSKS dulu. Masa itu, bagi saya, adalah masa yang hening. Saya lebih banyak diam, duduk di sudut, mengamati.
Tidak banyak bercakap. Tidak banyak bergaul. Bahkan jika jujur, saya merasa “cukup asing” di tengah keramaian persekutuan itu.
Namun di tengah keheningan itu, ada sosok-sosok yang tetap terlihat jelas dan saya amati.
Salah satunya adalah Herutomo.
Saya ingat senyumnya. Bukan senyum yang dibuat-buat. Saya merasakan ada ketulusan di sana. Ada kehangatan yang tidak berisik, tetapi sangat bisa saya rasakan.
Dan sorot matanya—itu yang paling membekas. Tatapan yang membuat orang lain merasa diterima, bahkan tanpa perlu banyak kata.
Bagi seseorang yang pendiam berat seperti saya waktu itu, kehangatan seperti itu bukan hal kecil. Itu sudah cukup untuk membuat saya merasa “tidak sepenuhnya sendiri.”
Hal yang membuat saya terpesona ketika ia menjadi gitaris persekutuan. Bagi saya ia bukan sekadar gitaris. Ia memainkan gitar dengan cara yang… hidup.
Saya sering memperhatikannya dari jauh. Bagaimana jemarinya bergerak ringan. Bagaimana musik yang ia mainkan terasa menyatu dengan suasana.
Ada orang yang memainkan alat musik. Ada juga orang yang menyampaikan sesuatu lewat musik. Saya kira, dia termasuk yang kedua.
Saya pernah ingin bisa seperti itu. Bisa memainkan gitar seperti dia. Bisa menghidupkan suasana.
Tetapi hingga hari ini, kemampuan itu tidak pernah datang. Hanya sebatas bermain gitar sederhana.
Dan mungkin, di situlah saya belajar sesuatu tanpa saya sadari: bahwa setiap orang punya panggilannya sendiri. Dan tidak semua harus kita miliki.
Kami pernah bertemu beberapa kali setelah masa SMA. Saya bahkan pernah main ke rumahnya sekali. Hanya untuk obrolan ringan dan untuk sekadar bisa belajar sebuah lagu.
Saya juga pernah beberapa kali bertemu di kampus Universitas Gadjah Mada.
Ada satu momen yang masih saya ingat dengan jelas—saat awal perkuliahan, kami bersama-sama ikut penataran P4.
Di ruang diskusi pleno, saya memang lebih banyak berbicara, berdebat, dan aktif menyampaikan pendapat.
Sesuatu yang, bagi orang yang hanya mengenal saya di persekutuan sma dulu, mungkin terasa aneh.
Dan dia menyadari itu. Dengan nada heran—yang justru terasa hangat bagi saya—dia berkomentar tentang apa yang saya lakukan di forum-forum pleno.
Tentang bagaimana saya yang dulu selama persekutuan siswa terlihat banyak diam, tetapi justru aktif berbicara ketika mahasiswa.
Komentar itu sederhana. Namun entah mengapa, itu menjadi salah satu pengingat bahwa seseorang benar-benar memperhatikan kita—bahkan ketika kita merasa tidak terlihat.
Hari ini, ketika saya mendengar bahwa ia telah pergi, saya tidak hanya mengingat siapa dia. Saya juga mengingat siapa saya—di masa itu.
Seorang anak muda yang pendiam.
Yang belajar mengenali dunia dengan cara mengamati.
Dan dalam proses itu, tanpa sadar, belajar dari orang-orang seperti Herutomo.
Tidak semua orang hadir untuk menjadi sahabat dekat.
Tidak semua hubungan dibangun melalui percakapan panjang.
Ada orang-orang yang hanya melintas, namun meninggalkan kesan yang menetap.
Dan Herutomo adalah salah satunya.
Ia mungkin tidak tahu bahwa senyumnya pernah menguatkan seseorang yang diam di sudut ruangan.
Ia mungkin tidak tahu bahwa permainannya pernah menginspirasi seseorang yang ingin belajar.
Ia mungkin tidak tahu bahwa perhatiannya yang sederhana pernah membuat seseorang merasa dilihat.
Namun hari ini, saya tahu—
bahwa hidupnya telah menjadi berkat.
Ada jejak yang ia tinggalkan.
Dalam nada-nada yang pernah ia mainkan.
Dalam senyum yang pernah ia berikan.
Dalam ingatan orang-orang yang pernah bersinggungan dengannya, sekilas pun.
Selamat jalan, Herutomo.
Terima kasih untuk kehadiran yang mungkin sederhana—tetapi tidak pernah benar-benar kecil.
Beberapa orang pergi, tetapi apa yang mereka tinggalkan tidak pernah ikut pergi.
Dan mungkin, di suatu tempat yang lebih tenang sekarang bersama Kristus, nada gitarmu masih terus dimainkan— lebih indah dari sebelumnya.
Sigit B Dharmawan
Bekasi, 9 April 2026
Jam 12.25

